Kaidah wajib dapat ditinggalkan kecuali karena wajib dan ibarat-ibarat lainnya, serta pengecualian

- Selasa, 5 Oktober 2021 | 06:00 WIB
photo-1474631245212-32dc3c8310c6
photo-1474631245212-32dc3c8310c6


Terdapat sebuah kaidah bahwa "Wajib tidak dapat ditinggalkan kecuali karena wajib." Contoh dari kaidah tersebut adalah menurut hukum membedah perut itu hukumnya haram. Untuk itu perut wajiblah dijaga agar tidak sampai terbedah. Namun, seandainya ada seorang ibu yang kesulitan saat melahirkan, kecuali dengan pembedahan, maka dari itu Kewajiban menjaga perut agar tidak terbedah, dapat ditinggalkan karena adanya kewajiban membedah perut demi keselamatan seorang ibu dan bayi yang ada di kandungannya yang tengah menderita. Kaidah tersebut juga terdapat ibarat-ibarat lainnya.





Wajib tidak Dapat Ditinggalkan karena Sunah





Dalam kaidah "wajib itu tidak dapat ditinggalkan karena Sunah" contohnya sebagai berikut. Misalnya dalam salat seseorang telah terlanjur meninggalkan Tasyahud awal serta kini sudah dalam posisi berdiri. Hal itu dirinya tidak boleh kembali duduk karena berdiri adalah wajib dan tidak dapat ditinggalkan, dan Tasyahud awal hukumnya Sunnah. Untuk itu berdiri hukumnya wajib, dan Tasyahud awal hukumnya Sunah, maka wajib atau berdiri tidak dapat ditinggalkan karena Sunah.





Sesuatu Terlarang jika Diperbolehkan maka Menjadi Wajib





Ada sebuah kaidah yakni, "Sesuatu yang Terlarang, takkala diperbolehkan, maka menjadi wajib." Contoh dari kaidah ini ialah, makan bangkai itu dilarang, Namun karena dalam keadaan darurat maka diperbolehkan. Memakan bangkai bagi orang yang dalam keadaan darurat itu bertujuan untuk menyambung umur.





-
Tips mengambil keputusan. Foto: Pexels




Sesuatu yang menjadi Keharusan Tidak Boleh Ditinggalkan kecuali karena Sesuatu Keharusan





Kaidah tersebut yakni sesuatu yang menjadi keharusan itu tidak boleh ditinggalkan kecuali karena sesuatu keharusan. Ibarat-ibarat ini dapat ditarik sebuah kesimpulan.
Pertama wajib dapat ditinggalkan, karena wajib. Kedua wajib tidak dapat ditinggalkan, karena Sunah. Ketiga, sesuatu yang haram tidak dapat dilanggar, kecuali karena adanya wajib. Keempat, kalau karena sunah, haram tidak dapat dilanggar.





Pengecualian





Dalam kaidah tersebut dan ibarat-ibarat lainnya terdapat sebuah pengecualian. Contohnya dalam Sujud sahwi hukumnya itu sunah dan tidak menyebabkan batalnya salat. meskipun Sujud sahwi itu menimbulkan banyak gerakan dalam salat. Lalu membunuh ular di tengah-tengah salat itu hukumnya Sunah dan tidak membatalkan salat, walaupun bisa menimbulkan banyak gerakan dalam salat. Kemudian takbir dengan mengangkat tangan berkali-kali dalam salat Ied hukumnya Sunah dan tidak membatalkan salat, walaupun membutuhkan banyak gerakan juga. Menambah rukuk dalam salat gerhana hukumnya Sunah dan tidak membatalkan salat, walaupun menimbulkan banyak gerakan. Terakhir melihat perempuan yang bukan mahram hukumnya haram, tapi kalau seorang sedang khitbah, hal itu diperbolehkan. Padahal khitbah itu sunah.

Halaman:

Editor: Emiliya Fatmawati - Muslima.ID

Tags

Terkini

Bekal terbaik bukan takwa melainkan uang

Senin, 25 Juli 2022 | 09:39 WIB

Tergesa-gesa adalah salah satu akhlak tercela

Rabu, 6 Oktober 2021 | 12:00 WIB

Macam-macam zakat mal yang harus dikeluarkan

Rabu, 6 Oktober 2021 | 08:00 WIB

Sering mendapat penolakan? Sikapi dengan 3 cara ini

Selasa, 5 Oktober 2021 | 16:00 WIB

Inilah 3 puasa sunnah dan Keutamaan didalamnya

Senin, 4 Oktober 2021 | 16:00 WIB

Inilah perjalanan manusia setelah kematian

Senin, 4 Oktober 2021 | 11:00 WIB

Inilah ibadah yang dicintai Allah karena ganjil

Minggu, 3 Oktober 2021 | 19:00 WIB

Inilah hukum dan keutamaan berjamaah

Minggu, 3 Oktober 2021 | 09:00 WIB

Terpopuler

X