Kisah Julaibib ra, sahabat yang sangat dicintai Rasulullah

Kisah Julaibib ra, sahabat yang sangat dicintai Rasulullah

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim).
Demikianlah gambaran dari Julaibib ra.

Julaibib ra yang miskin dan tak memiliki apa-apa

Entah siapa yang memberi nama beliau, karena Julaibib tidak diketahui orang tuanya, tidak memiliki harta, tidak pula jelas asal-usulnya. Pada saat itu di Yastrib (Medinah), orang yang tidak diketahui nasab dan sukunya, dianggap sangat hina. Apalagi Julaibib buruk muka, badannya pendek, hitam, dan nampak selalu kotor.

Julaibib tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki tempat tinggal, minum hanya menggunakan kedua belah tangannya dari kolam umum, dan tidur beralaskan kerikil, atau apapun yang ada di bawahnya. Tak ada orang yang menganggap Julaibib ada. Namun tidak demikian dengan Rasulullah.

Pada suatu hari Rasulullah menegur Julaibib yang tidur di shuffah masjid Nabawi, dengan lembut, “Julaibib…,” Demikian panggil beliau dengan halus, “
Tidakkah engkau menikah?”

“Siapa orangnya yang mau menikahkan aku dengan putrinya, ya Rasulullah,” demikian jawab Julaibib sambil tersenyum. Senyumnya begitu tulus. Bersih. Tak tersirat ada penyesalan terhadap kondisi fisiknya, maupun menyalahkan takdir Allah.

Demikian selama tiga hari berturut-turut Rasulullah bertanya kepada Julaibib, dan tiga kali pula jawabnya masih tetap sama.

Putri yang saleha dan taqwa

Maka pada hari ketiga Rasulullah memegang tangan Julaibib dan mengajaknya ke rumah salah seorang pemimpin Anshar.

Putri yang saleha. Foto : Instagram

“Aku ingin menikahkan Putri kalian,” demikian kata Nabi.

“Betapa berkahnya…,” Demikian kata si pemilik rumah dengan mata berbinar-binar. Beliau memiliki seorang putri yang sudah menjadi janda. Si pemilik rumah mengira putrinya akan dinikahi Rasulullah. “Ya Rasulullah, ini akan menjadi cahaya yang menerangi rumah kami. “

“Tetapi aku melamar bukan buatku,” demikian lanjut Rasulullah. “Kupinang putrimu untuk ku jodohkan dengan sahabatku, Julaibib.”

Wajah yang bersinar dengan sekejap berubah menjadi muram. “Ya Rasulullah, kalau demikian halnya saya harus meminta pertimbangan dari istri saya terlebih dahulu.”

“Apa? Dengan Julaibib? Yang berwajah lusuh, tidak bernasab, tak ketahuan orang tuanya, tidak berpangkat, juga tidak berharta?
Demi Allah Putri kita tak akan menikah dengan orang seperti itu.”

Namun perdebatan itu terhenti ketika dari balik tirai Putrinya menanyakan. “Siapa yang melamarku?”

Ayah dan ibunya menjelaskan bahwa Rasulullah meminangnya untuk dinikahkan dengan Julaibib.

Maka putrinya berkata dengan bijak, “Mengapa kalian menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirimkanlah aku kepada beliau. karena jika yang menjodohkan adalah Rasulullah, tak akan mungkin mendatangkan kehancuran dan kerugian bagiku.”

Kemudian putrinya membaca ayat yang artinya : “Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzab: 36)

Rasulullah pun mendoakan: “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan padanya, dengan penuh berkah. Jangan jadikan hidupnya payah dan bermasalah apapun.” Demikian doa indah dari Nabi terhadap wanita yang salehah dan bertakwa itu.

Demikianlah Julaibib menikah dengan istri yang cantik wajah dan hatinya. Mereka hidup dengan berbahagia dan saling mengasihi. Namun ternyata Allah berkehendak lain.

Julaibib syuhada di medan laga

Tak berapa lama setelah pernikahannya, Julaibib mengikuti panggilan untuk berjihad menggema.

Tentu saja Julaibib berangkat dan berada di garis terdepan membela Islam.

Ketika perang usai, semua jenazah para Mujahid dikumpulkan.
Rasulullah bertanya,”Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak, Rasulullah. Semua syuhada sudah kami kumpulkan.”

“Apakah kalian tidak kehilangan seseorang?” Tanya Nabi kembali.

“Tidak ya Rasulullah, kami sudah temukan semua yang syahid.”

Pertanyaan itu sampai diulang tiga kali oleh Rasulullah. Sampai para sahabat dengan waswas menengok ke kanan dan kiri untuk mencari temannya. Lalu : “Aku kehilangan Julaibib.” Begitu kata beliau dengan sedih.

Para sahabat pun bergegas mencari Julaibib. Namun mereka menemukannya sudah meninggal dengan luka di sekujur tubuh dan wajah. Di dekatnya ada tujuh jasad musuh. Agaknya Julaibib meninggal setelah berduel dengan 7 orang musuh.

Dengan kedua tangannya sendiri Rasulullah menggendong Julaibib, dan memakamkannya. “Ya Allah, dia adalah bagian dari ku dan aku adalah bagian dari dirinya,” demikian doa Rasulullah.

Julaibib yang bagi orang lain, bukan siapa-siapa, bagi Rasulullah sangat dekat di hati beliau. Sangat istimewa. Karena di akhir hayatnya, Julaibib berakhir syahid ketika membantu Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Sungguh wajah, penampilan, dan sebagainya, tidak berarti di mata Allah. Seperti salah satu firman Allah dalam Alquran yang artinya, “Sesungguhnya orang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu”. (QS Al-Hujurat: 13)

Julaibib berjodoh dengan bidadari di surga, dan para bangsawan dan pembesar berebut meminang istrinya yang bijaksana dan memiliki doa dari Rasulullah.

Untuk ulasan hal inspiratif lainnya, silahkan follow Muslima (TCT)

Baca Lainnya

Dihujat bertubi-tubi, Atta Halilintar: Nabi ku ajarkan balas dengan kebaikan

Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula anginnya. Rasanya pepatah itu pas buat menggambarkan kehidupan Atta Halilintar. Tak hanya menerima sanjungan atas prestasinya sebagai YouTuber...

Sepatu flat sekarang banyak macamnya dan gak boring

Sebagian besar ulama masih memperdebatkan masalah halal haram tentang sepatu hak tinggi. Hanya saja ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Sedangkan sisanya adalah haram....

Adab puasa yang baik dan perlu dijaga oleh orang muslim

Puasa juga merupakan salah satu ibadah. Dalam syari'at ajaran Agama Islam tentunya setiap ibadah memiliki adab - adabnya. Adapun urgensi menjaga adab dalam beribadah...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here