Pengecualian Kaidah “apa yang haram mengambilnya, haram pula memberikannya

Ada sebuah kaidah yang mengatakan apa yang haram mengambilnya, haram pula memberikannya. Maksud dari kaidah tersebut ialah jika haram mengambilnya itu juga haram dalam memberikannya. Contohnya: uang hasil perjudian Hukumnya haram, haram diberikan kepada orang lain, Sebab jika diambil untuk digunakan sendiri juga haram. Contoh lainnya yaitu jika menerima uang suap hukumnya haram maka memberikan uang suap hukumnya juga haram. Namun dalam kaidah tersebut ada pengecualian nya.

Pengecualian

Contoh dari pengecualian kaidah ini ialah, sebut saja orang a dan b, kedua orang tersebut bercerita dan minta keadilan. Mereka ke pengadilan. Sebenarnya A yang bersalah, dan B lah yang benar. Namun dilihat dari proses pengadilan Hakim cenderung condong membela A. Kemudian demi menegakkan keadilan B bertindak menyuap Hakim. Tindakan tersebut diperbolehkan, meski Andaikata B menerima suap haram hukumnya. Begitu juga Ketika memberikan hadiah pada seorang penguasa, hal tersebut bertujuan agar seseorang yang ditahan tanpa kesalahan apapun segera dibebaskan.

Kemudian jika ada seseorang yang menerima sebuah wasiat dari orang yang akan meninggal dunia, untuk menyampaikan sebagian harta kepada orang-orang tertentu. Tapi tiba-tiba saja terdapat orang lain yang akan berbuat zalim kepada dirinya, maka demi keselamatannya tersebut dirinya boleh memberikan uang hadiah kepada orang yang hendak mencelakakannya.

Kemudian, jika ada seseorang yang pandai yang alim pantas sekali menjabat sebagai bupati, Andaikata Jabatan itu tidak ditutupi nya, besar kemungkinan akan dijabat oleh orang yang bodoh dan tidak jujur. Dengan alasan itu, dirinya boleh memberikan hadiah kepada para pejabat yang berwenang. Dengan pamrih agar dirinya diangkat sebagai bupati. Sedangkan bagi pejabat yang berwenang yang menerima hadiah itu tetap haram menerima hadiah tersebut.

Kaidah yang Mirip

Terdapat sebuah kaidah yang mirip yakni “sesuatu yang haram mengerjakannya, haram pula memintanya.” contohnya ialah jika melakukan penyuapan hukumnya haram. Maka meminta salat juga haram hukumnya.

Pengecualian dalam kaidah ini ialah Jika A, mengadu kepada pengadilan, bahwa B memiliki hutang kepadanya sebesar Rp100.000 namun B mengingkarinya. Dalam hal tersebut meskipun A tidak memiliki bukti atau saksi yang dapat memperkuat tuduhannya Namun sebagai penggugat, ia tidak boleh bersumpah, sebaliknya boleh meminta agar B bersumpah.

Pengecualian lainnya ialah, dalam pemerintahan Islam boleh meminta jizyah kepada kafir dzimmi, namun membayar jizyah tidak boleh.

Wallahua’lam.

Untuk ulasan hal inspiratif lainnya, silahkan follow Muslima (TCT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here