Pentingnya mensyukuri nikmat yang kita dapatkan

Banyak hal yang akan kita dapatkan dengan mensyukuri nikmat pemberian Allah SWT.

Pada umumnya manusia hidup dengan dikelilingi banyak keinginan. Terkadang keinginan yang didambakan merupakan hal-hal yang sulit didapatkan. Celakanya, keinginan-keinginan yang tak mudah ini sebenarnya teriring dengan rasa syukur yang kurang. Sering lupa akan nikmat yang telah Allah berikan. Tidak mensyukuri berkah-berkah yang Allah amanahkan. Sering merasa kurang di dalam banyaknya kenikmatan sebagai makhluk Allah yang paling sempurna. Merasa tidak cukup dengan nikmat sehat, nikmat sandang, pangan dan papan yang kita terima.

Padahal, dengan menjadi orang yang pandai mensyukuri nikmat, justru Allah akan menambah nikmatnya untuk kita. Dalam Alquran Surat Ibrahim ayat 7 disebutkan bahwa “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Selain itu, orang yang pandai bersyukur juga dicintai Allah dan diampuni dosa-dosanya. Sebagai bentuk mensyukuri nikmat Allah kita patut mengucapkan kalimat Alhamdulillah. Namun, selain dengan cara itu, ada tiga cara yang bisa kita lakukan yaitu bersyukur dengan hati, lisan dan perbuatan.

Pentingnya muhasabah bagi umat Islam. Foto: Unsplash
Pentingnya muhasabah bagi umat Islam. Foto: Unsplash

Bersyukur dengan hati

Memiliki hati yang baik sangat disukai Allah. Dalam hal bersyukur, kita harus pandai meyakini bahwa segala nikmat yang kita terima di dunia ini bersumber dari Allah. Baik nikmat yang berwujud maupun nikmat yang hanya bisa kita rasakan. Mulai dari nikmat sehat, sandang, pangan, papan hingga nikmat iman dan Islam. Mulai dari nikmat yang kita terima sendiri hingga nikmat yang kita terima lewat teman, pekerjaan atau lainnya.

Rasa syukur dengan hati juga bisa diupayakan dengan cara meniatkan nikmat yang kita dapat untuk kita manfaatkan di jalan Allah. Berniat untuk mengingat Allah di setiap jalan yang kita pilih.

Bersyukur dengan lidah

Mengucapkan hamdalah merupakan wujud rasa syukur dengan lidah. Bukan hanya itu, bersyukur dengan lidah bisa kita wujudkan dengan menceritakan nikmat kita kepada orang lain namun tanpa berlebihan. Karena cerita yang berlebihan ditakutkan bisa membawa pada sifat riya’ atau pamer. Lebih lanjut lagi, syukur dengan lidah harus kita wujudkan dengan berkata jujur dan tidak melontarkan kata kotor.

Bersyukur dengan perbuatan

Allah berfirman dalam surat Saba ayat 13 yang berarti “Wahai keluarga Dawud, beramallah sebagai bentuk syukur (kepada Allah).” Ayat tersebut merupakan perintah Allah kepada keluarga Nabi Dawud untuk beramal. Karena tugas kita sebagai hamba Allah yang sudah diberikan nikmat adalah berterimakasih kepada Allah dengan cara beramal dan bersedekah. (CTH)

Baca Lainnya

Roger Danuarta belajar sholat dan ngaji atas nasihat ibunda non muslim

Baru-baru ini Roger Danuarta menceritakan perjalanan spiritualnya hingga mantap menjadi seorang muslim. Hal itu diceritakannya bersama istri, Cut Meyriska dalam kanal YouTube Ussy Andhika. Butuh...

Asal mula masuknya Abu Bakar As-Siddiq ke agama Islam

Abu Bakar As-Siddiq adalah salah seorang sahabat nabi yang termasuk dalam As Sabiqun Al Awalun, atau orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Beliau memiliki nama...

Kisah Julaibib ra, sahabat yang sangat dicintai Rasulullah

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian."...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here